fbpx

Reggio Emilia -02

Halo Bunda Yanda semua

Kalau minggu lalu kita baru masuk perkenalan dengan pendekatan reggio emilia, kali ini kita akan menggali lebih dalam.

Kita akan mencari jawaban atas pertanyaan: 

“Apa saja prinsip yang digunakan dalam pendekatan reggio emilia?”

Harapannya dengan mengetahui prinsip, dengan mengetahui dasar pemikiran mereka, maka kita akan bisa mengcopy keberhasilan mereka dan menyesuaikannya dengan kondisi di sekolah kita.

Siap?

Semangat?

Jos jos jos.

Prinsip Reggio Emilia Dalam Bentuk Cerita

Pendekatan Reggio Emilia memiliki latar belakang perang dunia ke 2.

Italia termasuk dalam negara yang kalah perang. Jumlah penduduk, terutama kaum muda berkurang drastis karena menjadi korban perang.

Tingkat ekonomi negara juga dalam tekanan berat. Mereka harus membayar denda perang yang sangat besar.

Dalam masa yang berat inilah mereka bertanya hal yang tepat.

“Bagaimana supaya ini tidak terjadi lagi?”

Penduduk yang tersisa merasa bahwa pendidikan yang mereka terima tidaklah bisa mempersiapkan anak – anak untuk masa depan.

Mereka merasa membutuhkan suatu pendekatan pendidikan yang baru. Yang mampu membawa anak menghargai orang lain. 

Pada titik inilah seluruh komponen masyarakat bekerja bersama menyatukan pikiran menyusun pendekatan pendidikan sesuai impian masa depan yang mereka inginkan untuk anak – anak mereka.

Mereka sepakat dengan satu pemikiran tentang anak.

Bahwa anak – anak penuh dengan potensi, dengan rasa ingin tahu internal dan imajinasi tanpa batas.

Bahwa anak – anak adalah pribadi yang kreatif, mampu membangun pembelajaran mereka sendiri dan memiliki minat alami untuk mengeksplorasi.

Bahwa anak – anak tetap dapat terhubung dengan orang lain meski mereka sedang mengikuti minat mereka sendiri. Bukan menjadi pribadi yang tidak peduli dengan lingkungan saat mereka fokus dengan minatnya.

Orang dewasa merawat pembelajaran anak – anak dengan menyediakan lingkungan dan dukungan yang penuh.

Alih-alih menggunakan satu kurikulum untuk semua, Reggio Emilia menggunakan pendekatan yang berpusat pada anak dan pembelajaran berbasis proyek. Proyek pembelajaran anak dapat muncul kapan saja, termasuk saat anak sedang bermain.

Guru dapat mengamati dan menciptakan peluang untuk pembelajaran baru, semisal saat sedang bermain muncul suatu ide proyek dari anak, guru bisa membuka lingkungan baru, membiarkan anak-anak mengajukan pertanyaan yang merangsang pemikiran atau dengan mengundang anak lain untuk berkolaborasi.

Anak-anak memegang kendali proyek dan berkembang secara mandiri hingga proyek selesai dan dapat dibagikan kepada orang lain.

Sepanjang proyek, anak-anak secara alami mewujudkan semangat peneliti, pengambil risiko, perancang, dan penjelajah.

Mereka membuat hipotesis, mencoba hal-hal baru, menyelidiki, bermain, dan membayangkan. Untuk menyelesaikan proyek ini, anak tipe penjelajah mengajukan pertanyaan, anak tipe peneliti memberikan umpan balik dan anak perancang menunjukkan ide dan prototipe.

Terakhir mereka semua mengubah teori mereka menjadi kenyataan dan membangun eksperimen bersama. Pembelajaran menjadi sosial dengan cara tak berujung untuk menyelesaikan masalah tertentu.

Untuk mempromosikan pengembangan kreativitas, guru keluar dari kontrol atas proyek dan membiarkan kesalahan terjadi.

Konflik yang terjadi diantara anak dapat memupuk keterampilan sosial mereka.

Karena konflik mengajar anak-anak untuk berbicara, mendengarkan, berdebat dan berdiskusi, maka belajarlah untuk menerima pendapat yang berbeda dan untuk menghargai orang lain apa adanya.

Jika dua anak mendiskusikan masalah, yang ketiga dapat memiliki ide dan seluruh kelompok mempelajari nilai kerja tim.

Guru mendokumentasikan proyek melalui gambar, video, atau pengamatan tertulis.

Pembelajaran menjadi terlihat dalam foto, gambar atau hasil karya, ide, kutipan dan transkrip percakapan yang di tempel di dinding.

Anak-anak kemudian dapat meninjau kembali prestasi mereka, melihat proyek-proyek yang belum selesai dan mengetahui bahwa kegagalan adalah bagian dari jalan menuju kemajuan. 

Bagimana dengan guru? Pendekatan Reggio Emilia memandang guru bukan sebagai instruktur atau sumber ilmu yang mengetahui semuanya, tetapi mereka adalah teman dalam perjalanan penemuan anak itu sendiri.

Mereka dapat memperkenalkan buku, menunjukkan alat baru atau menawarkan perspektif yang sama sekali baru.

Namun guru selalu berhati-hati untuk tidak mengambil alih proses pembelajaran konstruktif, mengetahui bahwa hal ini bisa membatasi imajinasi dan motivasi anak.

Anak-anak sepenuhnya bertanggung jawab dan mengembangkan rasa memiliki atas kemajuan mereka sendiri, sebuah pondasi untuk mencintai pembelajaran seumur hidup.

Malaguzzi percaya bahwa ada 100 bahasa yang dapat digunakan anak-anak untuk mengekspresikan diri: mereka melukis, memahat, memainkan, membisikkan, dan memancing mereka membangun, mendengarkan, berbicara atau bernyanyi dan menari dan mereka bermain, yang menurut dugaan Einstein, adalah bentuk penelitian tertinggi.

Ingat, Einstein menemukan teori canggih yang pada masanya bahkan belum ada alat untuk mengukur teori ciptaannya. 

Anak-anak belajar dari orang dewasa, siswa lain, dan lingkungan yang dianggap sebagai guru ketiga.

Ruang sekolah dirancang dengan bahan untuk memicu keingintahuan, kreasi, dan penemuan. 

Idealnya ada dapur terbuka dan jendela besar sehingga anak-anak dapat melihat apa yang terjadi di luar, seperti di alun-alun kota Italia, sebuah piazza, di mana kita dapat mengamati kehidupan anggota lain dari komunitas kita. 

Orang tua yang dianggap adalah bagian terakhir dari pendidikan ini. Untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang pendidikan yang berpusat pada anak, mereka didorong untuk belajar dari dan dengan para guru dan anak-anak sehingga ketika anak-anak pulang sepulang sekolah mereka dapat terus menjadi peneliti, pengambil risiko dan penjelajah.

Malaguzzi pernah berkata: “berdiam diri sebentar dan sisakan ruang untuk anak, amati baik-baik apa yang dilakukan anak-anak dan kemudian jika Anda telah memahami dengan baik, mungkin mengajar akan berbeda dari sebelumnya”.

Mungkin suatu hari peneliti kecil dan penjelajah kita akan tumbuh menjadi penemu besar dan penjelajah hebat.

“Loh…. mana prinsipnya mister?”

“Bunda bertanya seperti itu?” Berarti Bunda termasuk tipe orang yang butuh data dalam bentuk list.

Kami siapkan juga, silahkan:

Prinsip Reggio Emilia dalam Bentuk Data Urut / List

Beberapa prinsip dalam pendekatan reggio emilia:

  1. Gambar Anak

kaya akan potensi, kuat, kompeten, dan yang terpenting, terhubung dengan orang dewasa dan anak-anak lain” . 

  1. Seratus Bahasa Anak

Anak-anak tumbuh dalam kemampuan mereka untuk berkomunikasi melalui ‘seratus bahasa’ mereka – seratus cara berpikir, menemukan dan belajar yang melampaui komunikasi verbal dan termasuk ekspresi kreatif melalui nyanyian, gerakan dan tarian, menggambar, membangun, memahat, melukis, pertunjukan, sains, matematika, dan lainnya. 

  1. Hubungan

Filosofi Reggio didasarkan pada hubungan timbal balik, saling menghormati yang menekankan penilaian pendapat, sudut pandang dan interpretasi orang lain dan pentingnya orang dewasa dan anak-anak belajar bersama.

  1. Peran Guru

Dalam upaya menjunjung tinggi citra kuat setiap anak ini, para pendidik di Reggio mendukung anak-anak dalam belajar melalui eksplorasi dan investigasi dengan menanggapi minat anak-anak dan menegosiasikan proses-proses pengajaran dan pembelajaran yang muncul bersama mereka.

  1. Lingkungan adalah Guru Ketiga

Anak-anak bekerja dengan beragam sumber daya terbuka dan bahan-bahan alami dan daur ulang yang merangsang kreativitas, eksplorasi, dan imajinasi. Setiap ruang menghormati kemampuan anak-anak dengan memberi mereka alat dan bahan otentik sambil menawarkan keindahan dan rasa kesejahteraan serta kemudahan.

Materi dalam bentuk cerita dan data

Bunda baru saja mengakses materi yang serupa dalam bentuk cerita dan data.

Lebih enak bukan?

Kita manusia tidak ada yang dominan 100% hanya suka cerita, atau dominan 100% hanya suka data.

Otak suka kalau kita merangsangnya dengan dua bentuk pembelajaran, cerita dan data.

Bunda bisa praktekkan ini ke KBM juga. 

Bunda awali kbm dengan menggunakan cerita dan tutup dengan data, bisa berupa ringkasan singkat.

Akan lebih nempel ke anak – anak.

Dalam mengumpulkan materi Reggio Emilia kami mengakses kurang lebih 8 video dan belasan jurnal serta artikel dari sumber yang kami anggap kredibel.

Salah satu sumber yang kami temukan adalah berupa pelatihan pendekatan reggio emilia ke sekolah yang menggunakan pendekatan ini.

Jadi materinya singkat, padat dan langsung dalam bentuk tindakan.

Kami merasa materi ini akan bisa melengkapi Bunda dalam menangkap gambaran tentang pendekatan reggio emilia.

Jadi kami tampilkan juga sbb:

Prinsip Pendekatan Reggio Emilia Untuk Guru Praktisi Pendekatan Reggio Emilia 

  1. Anak harus memiliki bagian kontrol atas arah pembelajaran mereka.
  2. Anak harus bisa belajar dari pengalaman langsung, seperti memegang, memindahkan, mendengarkan dan mengobservasi.
  3. Anak memiliki hubungan dengan anak lain dan dengan material di ruangan mereka- oleh karenanya anak harus diizinkan untuk melakukan eksplorasi.
  4.  Anak harus memiliki banyak pilihan dan kesempatan untuk mengekspresikan diri mereka sendiri.
  5. Anak – anak memiliki 100 atau lebih bahasa untuk mengekspresikan diri mereka.
  6. Peran pendidikan sebagai partner anak dalam belajar (co-constructor).
  7. Lingkungan dilihat sebagai guru ketiga.
  8. Pembelajaran terjadi dalam kurun waktu yang lama, biasa disebut sebagai proyek.
  9. Hubungan dan koneksi antara orang dan tempat merupakan bagian integral mencakup relasi dengan budaya, keluarga dan sejarah.
  10. Interaksi dengan anak adalah hal yang terpenting dan harus merefleksikan praktik terbaik dari hal hal berikut:
    1. Kontak mata, bahasa tubuh terbuka dan senyuman.
    2. Tersedia untuk anak, duduk dengan level yang sama.
    3. Mendengarkan bahasa verbal dan bahasa tubuh anak.
    4. Bertanya dengan menggunakan pertanyaan terbuka, “-Bagaimana menurutmu?”
    5. Tertawa bersama anak, nikmati momen saat bersama anak. Lupakan kewajiban mengerjakan rpp dalam 15 menit kedepan.
    6. Gunakan bahasa positif, seperti, ..berjalan di lorong”.
    7. Akui usaha komunikasi anak, seperti, “unda suka dengan kata …yang kamu gunakan.” “Itu perbendaharaan kata yang bagus.” Atau.. “itu ide yang bagus.”
    8. Respek dan dukung gaya komunikasi dan level partisipasi anak.
    9. Sadari nada bicara kita.
    10. Bicara dengan tenang ketika menangani konflik atau tindakan yang menantang.

Materi kalau hanya tulisan rasanya ada yang kurang. Kami mengerti itu. Jadi berikut kami sertakan juga 3 video tentang pendekatan reggio emilia 

Video dibawah ini berasal dari sekolah di Indonesia, tepatnya Surabaya. Sepertinya ini termasuk group yang mencakup beberapa negara di Asia. Klik gambar untuk mengarah ke video youtubenya.

Video yang ini, berisi sedikit penjelasan tentang konsep seratus bahasa anak dan contoh program yang dilakukan sekolah.

Dibawah ini video tentang penjelasan singkat pendekatan reggio emilia secara umum dan contoh di sekolah.

Sebagai penutup broadcast kami akan angkat satu kejadian dalam keseharian sekolah yang menggunakan pendekatan reggio emilia 

Seorang anak bertanya pada guru.

Bona: “Bagaimana lebah buat madu?”

Guru: “Pertanyaan yang bagus Bona. Bunda penasaran bagaimana ya caranya lebah membuat madu?”

Bona: “M..mungkin lebah mengambil sesuatu dari bunga dan membawanya pulang pakai lidah mereka?”

Hasan kemudian bergabung dan membagikan komentarnya.

Hasan: “Aku kira lebah membawanya pakai kaki dan mencampurnya di sarang mereka jadi madu.”

Dewi yang semula tidak terlibat, penasaran dan ikut memberikan komentar.

Dewi: “Aku penasaran. Apa nama benda yang diambil dari bunga? Apa itu sudah jadi madu…. Atau itu yang akan dibuat jadi madu?”

Hasan terlihat merenung sementara Bona langsung menjawab. 

Bona: “Belum, itu belum jadi madu. Itu namanya pollen dan nanti lebah akan mencampurnya, baru jadi madu.”

Hasan setuju bahwa itu belum jadi madu, meski begitu Hasan mendebat Bona.

Hasan: “Itu bukan pollen Bona, itu namanya nektar.”

Ratih bergabung dengan diskusi dan menambahkan.

Ratih: “Aku rasa itu nektar, karena burung – burung memakannya dari bunga, tapi aku tidak tahu bagaimana lebah membuat madu dari nektar.”

Hasan juga menambahkan, “Hanya ada 1 ratu lebah, ia merawat semua lebah lainnya.”

Percakapan berubah arah…

Ratih diam sejenak dan pelan – pelan berbicara sambil mempertimbangkan ucapannya “…ratunya pasti punya banyak sekali cinta, karena ada banyak sekali lebah di sarangnya.”

Bona mendebat..”Apa serangga punya cinta?

Ratih menjawab dengan cepat, “Ya tentu saja punya, kan dia ratu dan seorang ibu.”

Hasan menambahkan komentar, “Mereka punya cinta karena mereka hidup. Untuk hidup harus punya jantung, dan jantung membuat cinta.”

Saya merinding saat melihat video penjelasan kisah ini.

Bagaimana percakapan yang berawal dari madu, bisa sampai ke cinta ibu.

Salutnya lagi, dalam percakapan tersebut, gurunya tidak menambahkan informasi yang diketahuinya. Tetapi memberi kesempatan dan ruang untuk anak mengeluarkan apa yang diketahuinya dan apa yang dirumuskannya dari apa yang diketahui.

Bagaimana dengan Bunda Yanda?

Apa yang BuYan dapatkan dari anekdot diatas?