fbpx

Reggio Emilia -01

Halo Bunda Yanda semua

Kalau bulan lalu kita belajar tentang Montessori. Pada bulan ini kita akan belajar pendekatan “Reggio Emilia”.

Apa sih Reggio Emilia itu?


Apakah nama orang?

Seperti Montessori yang merupakan nama pembuatnya?

Bagaimana dengan latar belakangnya?

Negara mana saja yang sudah menggunakan pendekatan Reggio Emilia?

Pertanyaan – pertanyaan tersebut akan kita jawab pada broadcast Reggio Emilia bagian 1 ini.

Semangat belajar Bunda semua.

Nama Reggio Emilia

Berbeda dengan metode Montessori yang menggunakan nama penciptanya sebagai nama metode.

Reggio Emilia bukanlah nama orang. Melainkan nama sebuah kota di Italia di daerah Emilia Romagna, 35 mile dari kota Bologna.

Kalau penggemar sepakbola liga italia, pasti tahu kota Bologna. Karena ada satu klub sepakbola italia yang menggunakan nama kota Bologna sebagai nama klub.

Jika seumpama, kita ingin melihat langsung kesana. Dari Jakarta pusat kita membutuhkan waktu penerbangan hingga 18 jam 25 menit dengan tiket kira – kira Rp 13.327.500,00 untuk pergi saja. Belum termasuk pulangnya.

Untung sekarang ada internet. Jadi kita bisa melihat gambaran apa yang terjadi di pendidikan yang menggunakan pendekatan Reggio Emilia, tanpa harus meninggalkan rumah kita.

Dari laporan praktisi pendidikan yang berkunjung ke kota Reggio Emilia pada tahun 1990 an, disebutkan bahwa kota ini:

  1. Berjumlah penduduk 130.000 dengan banyak ladang pertanian peternakan dan ekonomi yang makmur. Saat ini perkiraan memiliki jumlah penduduk sebesar 171.999 (sumber: https://www.citypopulation.de/en/italy/emiliaromagna/reggio_nellemilia/035033__reggio_nellemilia/)
  2. Rasio jumlah pekerja lebih tinggi dibanding rasio nasional Italia. Dengan kata lain, lebih banyak orang yang memiliki pekerjaan di kota ini dibandingkan di seluruh negara.
  3. Pekerja wanita berusia 20 sampai 30 tahun lebih banyak dibandingkan pekerja pria. Mereka terutama bekerja di bidang perdagangan, pendidikan, manufaktur dan pertanian.
  4. Memiliki pemandangan yang kontras. Di satu sisi kecanggihan teknologi terlihat di jalan – jalan, di sisi lain banyak bangunan berusia ratusan tahun berdiri di kota.
  5. Banyak toko kecil memajang merchandise fashion kekinian dengan alat pembayaran canggih.
  6. Jalan – jalan ramai dengan orang berlalu lalang menggunakan sepeda, mobil kecil dan berjalan menggunakan satu jalur yang sama.

Dari gambaran keadaan ini. Beberapa hal bisa kita asumsikan terkait dengan praktik pendekatan Reggio Emilia:

  1. Pertumbuhan anak yang menghargai orang lain. Terlihat dari penggunaan satu jalan untuk semua kegiatan:  jalan kaki, sepeda, dan mobil.
  2. Kewirausahaan bertumbuh. Terlihat dari banyaknya toko kecil milik pribadi.
  3. Kemampuan pemecahan masalah berkembang baik. Terlihat dari pemakaian teknologi canggih untuk transaksi keuangan di banyak toko yang ada.

Latar Belakang

Bagaimana pendekatan Reggio Emilia ini muncul. Apa yang menjadi latar di belakang lahirnya pendekatan ini?

Begini ceritanya:

Setelah perang dunia II berakhir. Penduduk Italia mulai membangun kembali daerahnya dengan apa yang dimiliki.

Untuk memberikan gambaran.

Pihak yang kalah perang, biasanya akan mengalami kesulitan dalam banyak bidang.

Paling terasa adalah ekonomi, karena kekurangan bahan baku dan tenaga kerja yang berkurang drastis karena menjadi korban peperangan. Dan biasanya pihak yang kalah mendapat semacam denda yang harus dibayarkan atas kerusakan yang terjadi akibat peperangan.

Berdasar Perjanjian Perdamaian yang ditandatangani Italia, pada tahun 1947.

Italia setuju untuk membayar ganti rugi sekitar

  •  US $ 125 juta ke Yugoslavia, 
  • US $ 105 juta ke Yunani, 
  • US $ 100 juta ke Uni Soviet, 
  • US $ 25 juta ke Ethiopia, dan 
  • US $ 5 juta ke Albania .

Total Italia membayar denda sebesar US $ 360 juta.

Kalau di rupiahkan menjadi 

Rp 5,295,042,000,000.00. 

Atau 5,3 triliun.

Perlu diingat. Pada tahun itu belum ada rupiah.

Dan pada tahun 80 an gaji PNS sebesar Rp 7 ribu.

Jadi angka Rp 5, 3 triliun pada tahun 1947 adalah angka yang sangat besar.

Nah, di tengah kesulitan yang dialami ini, penduduk Reggio Emilia justru memilih untuk mengutamakan pendidikan.

Pemikiran mereka. Mereka tidak ingin peperangan seperti yang mereka alami terjadi lagi.

Mereka merasakan secara langsung bahwa pemikiran fasis.

Merasa diri / komunitas / ras / negara lebih unggul,lebih benar dibanding yang lain sama sekali tidak membawa kebaikan. Justru membawa negara mereka ke kehancuran.

Mereka ingin memperbaikinya, dan mereka merasa bahwa jawabannya adalah ada pada generasi selanjutnya.

Anak – anak mereka.

Merekapun membangun sekolah.

Tidak heran, saat mereka menemukan satu tank teronggok di luar kota. Sumber daya yang sangat langka saat itu.

Logam yang bisa dijual untuk membangun kembali fasilitas kota. 

Dan mereka jual untuk menambah biaya pembangunan sekolah bukan untuk membangun yang lain.

Seorang guru yang bernama Loris Malaguzzi terlibat aktif dan memimpin dalam program ini.

Semua pihak, mulai masyarakat biasa, hingga pemimpin komunitas duduk bersama membangun pendidikan.

Mereka membahas semuanya, mulai dari bangunan fisik, materi yang akan dipelajari, nilai – nilai yang akan ditanamkan melalui pembelajaran, hingga penyediaan material untuk pendidikan. Semua dibahas bersama sebagai satu komunitas.

Dan ini dimulai dari usia yang paling dini.

Negara mana saja yang belajar pendekatan Reggio Emilia?

NAREA, salah satu organisasi pendiri jaringan internasional Reggio Emilia, mencatat ada 36 negara yang belajar menggunakan pendekatan Reggio Emilia .

Beberapa negara tersebut antara lain:

EUROPE COUNTRIES NETWORK

Austria, Denmark, Finland, Germany, Ireland, Netherlands, Norway, Scotland, Spain, Sweden, United Kingdom.

NORTH AMERICAN 

United States.

 LATIN AMERICAN 

Argentina & Paraguay, Brazil, Colombia, Colombia, Costa Rica, Mexico, Peru.

 AFRICA

South Africa

 ASIA AND OCEANIA

Australia, India, Israel, Japan, New Zealand, South Korea, Singapore, Thailand. 

Tidak semua negara yang menerapkan pendekatan Reggio Emilia tercatat disini.

Dari penelusuran jurnal penelitian terkait pendekatan Reggio Emilia , kami temukan China dan Tanzania juga menerapkan pendekatan Reggio Emilia dalam beberapa porsi, tidak seluruhnya.

Jurnal yang kami temukan menyebutkan bahwa China dan Tanzania menerapkan pendekatan Reggio Emilia tetapi tidak sepenuhnya.

Sebagai contoh, di China, peran guru masih sangat besar. Guru dianggap sebagai yang memiliki pengetahuan. Peran orang tua dan komunitas tidak terasa.

Hal ini sangat berbeda dengan filosofi pendekatan Reggio Emilia dimana komunitas sangat berperan dalam pendidikan, dan guru hanya berperan sebagai pendamping anak dalam belajar.

Sekarang kami akan mengangkat satu negara, yang dalam upaya peningkatan kualitas pendidikannya, menggunakan pendekatan Reggio Emilia. 

Dan kebetulan data di internet juga cukup  banyak jadi kami memilih negara ini untuk memberi Bunda Yanda gambaran tentang “kelebihan” pendekatan Reggio Emilia di mata masyarakat dunia.

Amerika

Pada tahun 1996 Presiden Amerika, Bill Clinton menganggarkan 4 milyar dollar untuk anggaran bantuan child care.

Kalau di rupiahkan kurang lebih Rp 58,326,200,000,000.00 dibaca 58,3 Triliun.

Kalau buat beli indomie goreng seharga Rp 2.500,00 maka kita akan memiliki 23,330,480,000 mie goreng. Dibaca 23, 3 miliar mie.

Anggaran sebesar itu digunakan untuk melakukan banyak perubahan dan pembuatan program baru dalam dunia pendidikan.

Perubahan yang terlihat mencolok adalah pemerintah amerika menganggarkan dana mendukung dan mengembangkan program full day care supaya anak – anak bisa berada di satu tempat sepanjang hari.

Bukan berpindah, setengah hari di satu tempat untuk belajar, dan setengah hari lagi di tempat penitipan.

Lebih jauh lagi. Pada tahun 1997 First Lady saat itu,Hillary Clinton merilis program Membuat sekolah tetap buka sebagai pusat belajar komunitas.

Hal ini terasa sekali karena pengaruh Reggio Emilia, dimana proyek yang dilakukan anak bisa berbulan – bulan dan waktunya tidak terkekang oleh jam pelajaran.

Pemerintah bahkan meningkatkan keterlibatan semua pihak dalam peningkatan child care.

Dengan kata lain, pendidikan anak menjadi tugas bersama setiap komponen masyarakat.

Sampai disini kita bisa melihat bagaimana kebijakan politik Amerika di bidang pendidikan secara langsung dan tidak langsung dipengaruhi oleh pendekatan Reggio Emilia . 

Jadi tambah semangat untuk belajar pendekatan Reggio Emilia ya.

Kita akan teruskan pembahasan isi pendekatan Reggio Emilia pada broadcast minggu depan.

Sampai jumpa.