fbpx

Mengenal Montessori

Mengenal 

Maria Montessori

Sejarah

Maria Tecla Artemisia Montessori lahir pada tanggal 31 Agustus 1870

Tahun – tahun di mana diskriminasi gender masih sangat kental dirasakan.

Wanita lebih menjadi Ibu rumah tangga yang mengurus anak dan dapur. 

Butuh perjuangan ekstra untuk seorang wanita melanjutkan pendidikan, bahkan hingga jenjang tertinggi. Seperti yang dilakukan Montessori.

Pada tahun 1896 Montessori lulus sekolah medis di Universitas Sapienza Roma. 

Montessori memfokuskan diri belajar pendidikan dari berbagai tulisan filosofi pendidikan yang ada. Dan ini menjadi cikal bakal metode dan prinsip Montessori yang kita kenal.

Tahun 1906, Dr. Maria Montessori, yang baru saja menjadi juri suatu kompetisi internasional mengenai subjek pedagogi ilmiah dan psikologi eksperimental, diundang untuk membuat pusat pengasuhan anak di San Lorenzo, sebuah distrik kota Roma, yang memiliki banyak penduduk miskin. 

Di sana, dia akan bekerja dengan beberapa anak-anak yang paling tidak beruntung, dan sebelumnya tidak bersekolah. 

Dengan kata lain, Montessori diberi sekolah yang “tanpa harapan”.

Kalau sekarang ini, ibarat kata, Bunda Yanda (Selanjutnya akan disingkat BuYan)  diberi kepercayaan menjadi kepala TK di kota yang penduduknya paling miskin, dan anak – anaknya tidak pernah mengenal sekolah.

BuYan mau menjadi kepala TK di sekolah seperti  itu?

Salutnya, disini Montessori tidak menolaknya, tetapi menerimanya dan melakukan yang beliau bisa.

Sebagai seorang ilmuwan beliau terbiasa mencatat, mengolah catatan, mengajukan pertanyaan dan melihat apakah data dari hasil catatannya bisa diulang di tempat lain dan mendapatkan hasil yang sama.

Montessori akhirnya membuka ‘sekolah”  pada 6 Januari 1907, dan menyebut pusat pengasuhan itu Casa dei Bambini — bahasa Italia untuk “Rumah Anak-Anak.” 

Montessori bertekad menjadikan Casa sebagai lingkungan pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak muda ini, yang menurut banyak orang tidak dapat belajar — dan dia melakukannya. 

Pada awalnya anak – anak ini tidak bisa diatur, tetapi tidak butuh waktu lama,  mereka segera menunjukkan minat yang besar dalam mengerjakan teka-teki, belajar menyiapkan makanan dan membersihkan lingkungan mereka, dan terlibat dalam pengalaman belajar langsung. 

Montessori mengamati bahwa tak lama kemudian, anak-anak menunjukkan perilaku yang tenang dan damai, periode konsentrasi yang dalam, dan rasa keteraturan dalam merawat lingkungan mereka. Ingat prinsip “normalisasi”.

Dia melihat bahwa anak-anak menyerap pengetahuan dari lingkungan mereka, yang pada dasarnya mengajar diri mereka sendiri. 

Memanfaatkan pengamatan ilmiah dan pengalaman yang diperoleh dari pekerjaan sebelumnya dengan anak-anak, Dr. Montessori merancang bahan pembelajaran yang unik untuk mereka, banyak di antaranya masih digunakan di ruang kelas Montessori hari ini, dan menciptakan lingkungan kelas yang menumbuhkan keinginan alami anak-anak untuk belajar. 

Berita keberhasilan sekolah segera menyebar ke Italia. Pada 7 April 1907, Dr. Montessori membuka Casa dei Bambini kedua, juga di San Lorenzo. Dan pada 18 Oktober 1907, di Milan, dia membuka Casa ketiga.

Dan sisanya menjadi sejarah dunia terhadap metode pendidikan Montessori.

Dari hal ini kita bisa melihat bahwa metode Montessori terbentuk dari pengamatan pertumbuhan alami anak, yang dicatat, di data, direnungkan, dan dicoba ulang di beberapa tempat lain. Dan hasilnya konsisten, bagus untuk pendidikan anak.

Meminjam istilah sekarang. Montessori melakukan “Penelitian Tindakan Kelas” yang mampu di ulang di tempat lain dan terbukti berhasil.

Jadi dari sini kita bisa belajar juga, betapa pentingnya memiliki catatan untuk setiap pertanyaan yang muncul dalam kbm, untuk setiap keberhasilan tindakan di kelas, untuk setiap tindakan yang belum memberikan hasil seperti yang kita inginkan.

Prinsip Montessori

Setelah kita melihat sejarah metode Montessori, sekarang kita akan belajar prinsip – prinsip Montessori.

Ini penting, karena prinsip adalah hal yang mendasari tindakan Montessori.

Kita tidak memiliki peralatan seperti yang digunakan Montessori.

Kelas yang kita miliki berbeda dengan kelas Montessori.

Perlengkapan yang ada di kelas, juga berbeda. 

Pengaturan waktu juga berbeda. 

Tetapi pemikiran, kita bisa mengcopy.

Dan untuk itu kami merangkumkan prinsip Montessori yang kami temukan di internet.

Ada 16 prinsip yang kami angkat dari berbagai sumber.

1 Respek terhadap anak 

Kebutuhan dan minat perkembangan yang unik dari setiap anak perlu kita hormati. 

Kita tidak membandingkan anak berdasarkan prestasi. Tapi masing masing mereka berharga karena tidak ada anak yang sama. 

Pendidikan Montessori mencakup berbagai gaya dan jalur untuk belajar, dan memahami bahwa setiap anak memiliki perjalanan pembelajaran yang berbeda.

2 Periode Sensitif

Anak-anak dinilai telah melewati tahapan spesifik dalam perkembangan mereka, ketika mereka telah mampu mempelajari keterampilan khusus. 

Dalam pendidikan Montessori, ini disebut periode sensitif .

Dari gambar bisa kita lihat tugas perkembangan usia 0-6 tahun anak diharapkan mampu mandiri secara fisik dan biologis.

Mereka juga diharapkan mampu mengeksplorasi lingkungan mereka menggunakan indra mereka.

3 Pikiran yang Mudah Menyerap (Absorbent Mind)

Enam tahun pertama kehidupan seorang anak adalah waktu yang sangat penting dalam perkembangannya. Hal ini sejalan dengan pembangunan konsep tentang diri mereka sendiri dan dunia mereka.

Lingkungan pembelajaran Montessori mendukung anak-anak dalam tugas ini, dengan memberi mereka pengalaman belajar yang meningkatkan rasa memiliki, kepercayaan diri, kemandirian, dan hak untuk memilih.

4 Peran Pengajar

Sumber gambar: https://www.emaze.com/@AOWOFFCO/Maria-Montessori

“Bukti kesuksesan terbesar untuk seorang guru…adalah saat ia mampu berkata, murid – murid sekarang sedang bekerja (fokus) sampai mereka tidak terlihat menyadari kehadiran saya.”

Anak-anak adalah pusat dalam pembelajaran kelas Montessori. Peran guru adalah untuk mengamati dan membimbing, memperhatikan perubahan minat, kebutuhan perkembangan, dan emosi anak-anak. Guru juga merencanakan pelajaran harian untuk setiap anak.

5 Material Montessori

Sumber gambar: https://www.mcminnvillemontessori.com/montessori-materials

Material Montessori adalah alat belajar berbasis sensorik yang dirancang untuk mengisolasi satu keterampilan atau konsep. 

Materi mendorong pembelajaran langsung, pemecahan masalah independen, dan pemikiran analitis. 

Hal yang unik, adalah bahwa setiap bahan Montessori dirancang dengan kontrol visual kesalahan (kesalahan yang terjadi bisa dilihat dengan jelas).

6 Lingkungan yang Telah Disiapkan

Sumber gambar:

Kelas Montessori adalah lingkungan yang telah disiapkan yang dirancang untuk mengoptimalkan pembelajaran. 

Karakteristiknya meliputi: rak terbuka rendah, tampilan kiri ke kanan dari bahan Montessori dalam urutan perkembangan, area kurikulum yang ditentukan, berukuran (kecil) anak, kebebasan bergerak, dan kebebasan memilih.

7 Siklus Kerja Tiga Jam

Sumber gambar:The Advanced Montessori Method Volume 1. By Maria Montessori 

Dalam pembelajaran Montessori anak berpartisipasi dalam siklus kerja tiga jam setiap hari. 

Periode pembelajaran individual ini memberi anak-anak kesempatan untuk memilih pekerjaan mereka dan berkembang sesuai kecepatan mereka sendiri.

Dari gambar BuYan bisa melihat bagaimana struktur waktu yang digunakan dalam 3 jam tersebut.

Mulai dari aktivitas bersama, kegiatan yang mudah (sudah dikuasai anak), hingga puncaknya pada kegiatan baru yang memerlukan perhatian lebih dari anak.

8 Lima Area Kurikulum

Sumber gambar: http://danmont.com/the-5-areas-of-a-montessori-classroom/

Kurikulum Montessori dibagi menjadi lima bidang utama pembelajaran: Kehidupan Praktis, Sensorial, Matematika, Bahasa dan Budaya. 

Setiap area kurikulum juga memiliki ruang khusus dalam lingkungan yang disiapkan.

9 Normalisasi

Sumber:https://montessoridays.wordpress.com/2015/01/13/a-day-in-the-life-of-a-normalised-child/

Normalisasi menggambarkan proses di mana anak-anak fokus dan berkonsentrasi pada tugas untuk periode waktu yang berkelanjutan. 

Periode perkembangan ini ditandai oleh: kesukaan terhadap aktivitas, konsentrasi, disiplin diri, kemampuan bersosialisasi.

10 KEBEBASAN UNTUK MEMILIH

Sumber: https://montessoriacademy.com.au/montessori-freedom-within-limits/

Pembelajaran dan kesejahteraan anak akan meningkat ketika anak-anak memiliki rasa kontrol atas hidup mereka. 

Meskipun program-program Montessori memberikan batasan yang pasti pada kebebasan ini, namun anak-anak masih memiliki kebebasan untuk membuat lebih banyak keputusan daripada anak-anak yang belajar di ruang kelas tradisional, contoh keputusannya antara lain: apa yang harus dikerjakan, berapa lama untuk mengerjakannya, dengan siapa untuk mengerjakannya, dan seterusnya.

Di kelas tradisional, keputusan tersebut sudah ditentukan dalam RPP, tapi di kelas Montessori, anak – anak bebas membuat keputusan yang mereka inginkan. (Meski begitu, masih ada batasannya, jadi tidak sebebas sesuka hati).

11 KETERATURAN

Penelitian psikologi terbaru telah membuktikan bahwa keteraturan dalam lingkungan sangat membantu pembelajaran dan perkembangan anak. 

Montessori menyiapkan ruang belajar yang terorganisir, baik secara fisik (dalam hal tata ruang) maupun secara konseptual (dalam hal bagaimana penggunaan bahan sesuai level perkembangan anak).

Kami menyederhanakannya dalam satu kalimat: Semua ada tempatnya, semua ada waktunya. 

12 MINAT/KETERTARIKAN

Penelitian menunjukkan bahwa ketika orang belajar dengan tujuan melakukan mendapatkan nilai tes yang baik, biasanya pembelajaran mereka dangkal dan cepat terlupakan. 

Di sisi lain saat orang berminat atau tertarik pada apa yang mereka sedang pelajari, pembelajarannya jadi dalam dan nilainya juga bagus.

Untuk menerapkan prinsip ini, BuYan bisa menggunakan dua cara disini:

  1. BuYan mengaitkan materi dengan hal yang menjadi minat anak.
  2. BuYan membuat materi yang akan diajarkan menjadi hal yang menarik untuk anak.

13 BELAJAR DARI TEMAN

Sumber gambar: https://montessoriacademysharonsprings.com/wp-content/uploads/2017/06/Multi-age-classroom.jpg

Anak-anak di kelas Montessori belajar dengan model imitasi atau meniru, melalui bimbingan teman sebaya, dan dalam kolaborasi. 

Di kelas usia campuran, anak-anak yang lebih kecil belajar dari yang lebih tua, dan dengan mengajukan pertanyaan sambil menonton mereka bekerja. 

Anak-anak yang lebih besar yang mengajar anak-anak kecil, jadi sering mengulang dan mengkonsolidasikan pengetahuan dan keterampilan mereka, akibatnya mereka semakin menguasai pelajaran dan memperoleh keterampilan sosial juga.

14 GERAKAN

Sumber gambar: http://www.jwmontessori.com/primary.html

Otak kita berkembang sejalan dengan pergerakan kita, bukan saat kita duduk. 

Gerakan dan kognisi terjalin erat. 

Oleh karena itu, pendidikan Montessori melibatkan gerakan untuk meningkatkan pembelajaran.

15 KONTEKS

Sumber gambar: https://childledlife.com/montessori-outdoor-exploration/

Anak-anak dalam program Montessori lebih banyak porsi belajar dengan melakukan kegiatan, daripada belajar dari guru dan buku. 

Karena mereka melakukan sesuatu, bukan hanya mendengar dan menulis, pembelajaran mereka terletak dalam konteks tindakan dan objek yang mereka temui. Misalnya, anak-anak keluar dari ruang kelas dan pergi ke luar untuk meneliti minat mereka.

16 PANDUAN GURU

Sumber gambar: https://www.intesolindia.com/guide-to-join-montessori-teacher-training-course-india.php

Guru Montessori memberikan batasan yang jelas tetapi membebaskan anak-anak di dalam batas-batas ini. 

Mereka secara sensitif menanggapi kebutuhan anak-anak sambil tetap mempertahankan harapan yang tinggi. 

‘Pola asuh otoritatif’ semacam ini mencari jalan tengah antara sikap tradisional dan otoriter (“Lakukan karena kami katakan begitu”) dan pendekatan yang terlalu permisif dan berpusat pada anak dari sekolah progresif lain.

Perbandingan Montessori dan Pendidikan Tradisional

Untuk membantu kita memahami lebih lagi, berikut materitk juga menemukan tabel perbandingan antara metode Montessori dengan pendidikan tradisional.

Montessori EducationTraditional Education
Didasarkan pada perkembangan alami manusiaBerdasarkan transfer kurikulum nasional
Anak-anak belajar dengan kecepatan langkah mereka sendiri dan mengikuti minat mereka sendiriAnak-anak belajar dari kurikulum yang ditetapkan berdasarkan kerangka waktu yang sama untuk semua anak
Anak-anak mengajar diri mereka sendiri menggunakan bahan yang disiapkan khusus untuk tujuan ituAnak-anak diajarkan oleh guru
Anak adalah peserta aktif dalam pembelajaranAnak adalah peserta pasif dalam pembelajaran
Pemahaman datang melalui pengalaman anak sendiri melalui materi dan peningkatan kemampuan anak untuk menemukan sesuatu untuk diri mereka sendiriPembelajaran didasarkan pada mata pelajaran dan terbatas pada apa yang diberikan
Belajar didasarkan pada fakta bahwa eksplorasi fisik dan kognisi saling terkaitAnak-anak duduk di meja dan belajar dari papan tulis dan lembar kerja
Anak dapat bekerja di tempat yang nyaman, bergerak dan berbicara sesuka hati tanpa mengganggu orang lainAnak biasanya diberi kursi sendiri dan didorong untuk duduk diam dan mendengarkan selama sesi kelompok
Guru bekerja dalam kolaborasi dengan anak-anakKelas dipimpin oleh guru
Perkembangan individu anak membawa hadiah(reward)nya sendiri dan oleh karena itu motivasi muncul secara otomatis.Motivasi dicapai dengan sistem imbalan dan hukuman
Lingkungan dan metode yang digunakan mendorong disiplin diri secara internalGuru bertindak sebagai penegak utama disiplin eksternal
Anak bekerja selama dia menginginkan proyek yang dipilihAnak umumnya diberikan batas waktu tertentu untuk bekerja
Siklus kerja yang tidak tergangguWaktu di blok per periode pelajaran
Kelompok belajar terdiri dari berbagai usiaKelompok belajar terdiri dari usia kelompok yang sama
Pekerjaan dan pembelajaran disesuaikan dengan perkembangan sosial anakPekerjaan dan pembelajaran tanpa ada penekanan pada perkembangan sosial anak
Penekanan dilakukan bersama pada area pengembangan intelektual, sosial, emosional dan spiritualPenekanan utama pada pengembangan intelektual
Berbagi fokus pada perolehan keterampilan akademik, sosial, praktis dan kehidupanFokus utama pada akademik

5 Area Kunci Pembelajaran Montessori

  1. Kehidupan Praktis
  2. Sensorik
  3. Bahasa
  4. Matermatika
  5. Kebudayaan

Kita mulai dari nomor 1

1 Area Kehidupan Praktis

Dalam area ini anak anak belajar keterampilan hidup praktis seperti merawat diri (persiapan makanan, berpakaian, mencuci), peduli terhadap lingkungan (pembersihan, berkebun, perawatan hewan peliharaan), Rahmat dan Sopan santun (salam, sopan santun, interaksi sosial), Kontrol Gerakan (menyempurnakan gerakan, berjalan di garis, bergerak dengan tenang).

2 Area sensorik

Kegiatan di area ini bertujuan untuk melatih setiap indera anak – anak:

Sight (visual),

Sentuh (sentuhan),

Bau (penciuman),

Rasa (gustatory)

Suara (pendengaran)

Stereognostik (kinestetik).

Termasuk manipulasi bahan yang dirancang khusus untuk mengisolasi satu kemampuan / kualitas. 

Seperti peningkatan keterampilan motorik halus, indera visual dan auditori dan pengembangan koordinasi dan kemampuan untuk mengurutkan dan mengklasifikasikan. 

3 Area Bahasa

Montessori melatih kemampuan bahasa anak dengan dasar kesadaran fonetik. Kalau di Indonesia seperti mengeja.

Anak-anak belajar melalui bahan-bahan bahasa praktis dan sentuhan seperti huruf amplas hingga alfabet yang dapat dipindahkan. 

Bahasa bukan topik yang terisolasi tetapi berjalan melalui kurikulum. Bahasa lisan adalah dasar untuk menulis dan kemudian membaca.

4 Area Matematika

Kemampuan matematika dalam Montessori dikembangkan dengan menggunakan bahan pembelajaran yang konkret, terlihat bendanya.

Area sensorik adalah persiapan untuk matematika. Bahan tangan digunakan seperti batang nomor, nomor amplas, papan angka, kotak spindle, ubin nomor, manik-manik, dan permainan. Ini adalah APE yang dikembangkan Montessori.

Setiap latihan dibangun di atas yang lain dan anak berangsur-angsur bergerak dari beton ke area abstrak seperti nilai tempat, penambahan, pengurangan, perkalian, dan fraksi.

5 Kebudayaan

Area ini adalah area dimana anak – anak dimungkinan untuk menjelajahi dunia alami di sekitar mereka.
Hal ini termasuk: 

  • Geografi (benua, bentang alam, lapisan bumi, tata surya),
  • Zoologi (klasifikasi, fisiologi hewan),
  • Botani (ekologi, klasifikasi, fisiologi tanaman),
  • Sejarah (garis waktu, menggunakan kalender),
  • Ilmu pengetahuan alam.

Area budaya secara jelas dapat diidentifikasi oleh bola dunia, peta teka-teki, bendera dan mungkin gambar atau bahan dari budaya lain.

Untuk lanjut ke materi video Bunda bisa klik tombol di bawah