fbpx

Rasanya setiap guru PAUD pernah melihat video tentang penelitian marshmallow.

Video ini menjadi terkenal dan mudah diingat karena videonya yang menampilkan respon anak – anak, saat mereka menahan diri untuk tidak makan marshmallow.
Biar ingat kelucuannya kita nonton lagi yuh.

Penelitian ini adalah tentang penundaan kesenangan (delayed gratification). Dimana seorang anak ditawarkan dua pilihan. Satu reward kecil tapi segera, saat itu juga. Pilihan kedua, reward yang lebih besar tapi mereka perlu menunggu.

Penelitian ini dilakukan pada tahun 1972 dibawah pimpinan Bapak Walter Mischel, Profesor dari universitas Stanford.

Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa anak yang mampu menunda kesenangan untuk mendapatkan reward yang lebih besar memiliki kecenderungan untuk mendapatkan hidup yang lebih baik, dilihat dari hasil ujian nasional, pencapaian akademik, BMI (Indeks badan) dan ukuran kehidupan lainnya.

Sayangnya informasi yang beredar biasanya hanya berhenti disini.

Padahal seperti umumnya di bidang ilmiah. Sebuah hasil penelitian pasti akan diulang lagi untuk mengetahui sejauh mana hasil tersebut berlaku.

Dan penelitian ini juga diulang berkali kali oleh tim yang sama dan oleh banyak tim lainnya.

Dalam salah satu penelitian yang melibatkan obyek penelitian hingga 10 kali lipat lebih banyak, hasilnya cukup berbeda. Perbedaan antara anak yang mampu menunda kesenangan dan tidak, menurun menjadi hanya separuhnya.

Dan penelitian ini menyimpulkan bahwa latar belakang ekonomilah yang lebih berpengaruh terhadap masa depan anak, dibandingkan kemampuan menunda kesenangan.

Penelitian lainnya lagi, ada yang menunjukkan, kalau kemampuan menunda kesenangan ini bisa diajarkan ke anak yang semula tidak bisa menunda kesenangan.

Dengan kata lain, kemampuan yang dimiliki untuk sukses dimasa depan, bisa di copy paste ke anak lain.

Contohnya tindakan yang bisa dicopy paste:
Tidak memandang marshmallownya.
Menyanyi sambil menutup mata.
Bermain dengan melihat kearah lain.
Inti semuanya adalah fokus pada hal lain selain pada marshmallow yang ada di depan mata.
Dan langkah – langkah tersebut bahkan menjadi “blueprint” program nasional dan juga menjadi buku pengembangan diri di Amerika.

Lalu untuk kita guru kelas, apa yang bisa kita dapatkan dari hal ini?

Kita bisa mengajak anak yang “berhasil” melakukan tindakan yang positif, semisal: merapikan mainan dengan cepat, menyusun lego sampai tinggi, menyampaikan emosi marah dengan berkata -kata tanpa mendorong atau menyakiti temannya, untuk membagikan caranya kepada anak lain.

Dengan melakukan hal ini kita mengajarkan anak untuk belajar, untuk mengembangkan diri dengan melihat lingkungan di sekitarnya.

Di satu sisi, anak yang melakukan tindakan positif mendapat pengakuan, dan anak lainnya bisa melihat cara untuk melakukan hal “tertentu” dengan benar.

Bagaimana dengan Bunda?
Adakah hal yang Bunda pelajari dari penelitian marshmallow tersebut?

Salam hangat dari Denpasar.