fbpx

Halo Bunda.
Bagimana kabar minggu ini?
KBMnya lancar?

Saya berdoa Bunda selalu dalam kondisi sehat dijauhkan dari semua penyakit dan dilancarkan KBMnya, aminn.

Minggu ini saya melihat ada beberapa Bunda yang mulai belajar “coding” untuk anak – anak. Ini hal yang sangat bagus.

Kenapa bagus? Karena di masa depan, semua hal akan terkait dengan dunia digital.
Bunda mau belanja? Barang dan persediaannya dicatat dalam bentuk data digital.
Bunda mau periksa kesehatan, data pribadi dan riwayat kesehatan Bunda juga disimpan dalam bentuk data digital.
Bunda mau menyusun RPPH, template dan data pendukung juga Bunda simpan dalam bentuk digital.

Kalau anak – anak sudah disiapkan untuk paling tidak mengerti cara kerja program komputer,maka hal ini akan sangat membantu murid – murid kita dalam beradaptasi dengan lingkungan digital.

Tapi sekolah saya tidak punya komputer Mr, saya juga tidak tahu bagaimana mengajarkan coding ke anak – anak.

Jangan kuatir Bunda, meskipun Bunda tidak memiliki sumber daya untuk mengajarkan coding, tapi Bunda masih bisa mengajarkan pondasi coding. yaitu cara berpikir komputasi, atau yang lebih dikenal dengan nama computational thinking. Dan saya sendiri tidak melihat pentingnya penggunaan komputer di usia dini ini. Justru saya merasa yang lebih penting adalah mengajarkan cara berpikir komputasi ketimbang langsung latihan dengan menggunakan laptop.

Lalu apa itu cara berpikir komputasi?
Garis besarnya cara berpikir komputasi adalah seperangkat konsep, keterampilan, dan perilaku yang digunakan dalam ilmu komputer untuk menyelesaikan satu masalah atau proyek.

sumber: http://www.icompute-uk.com/news/tag/computational-thinking/

Dengan pengertian itu, cara berpikir komputasi lebih ke hal yang abstrak, seperti cara berpikir, yang menjadi keterampilan dan akhirnya mengarahkan perilaku kita. Jadi tidak masalah kalau kita memperkenalkan cara berpikir komputasi tanpa adanya laptop.

Ada 4 bagian dari cara berpikir komputasi:
1. Dekomposisi: menyederhanakan masalah yang terlihat rumit.

2. Pengenalan pola: memandu siswa untuk membuat hubungan antara masalah dan pengalaman yang serupa.

3. Abstraksi: mengajak siswa untuk mengidentifikasi informasi penting sambil mengabaikan detail yang tidak terkait atau tidak relevan.

4. Algoritma: Terakhir, siswa menggunakan algoritma (rangkaian tindakan) ketika mereka merancang langkah-langkah sederhana untuk memecahkan masalah.

Waduh, rumit mister?
Rumit karena baru mendengar, nanti lama – lama jadi enak kok.

Untuk enaknya, kali ini kita bahas bagian 1 saja.
Dekomposisi.
Artinya kita menyederhanakan atau memecah masalah yang ditemui.
Untuk contoh di TK, lebih mudah lagi, karena setiap kali ada masalah, biasanya anak – anak masih menggunakan bahasa primitif, entah itu menangis, memukul, atau menarik diri dari lingkungan sosial.

Begitu ketahuan ada masalah, kita bisa gunakan konsep dekomposisi ini.
Semisal ada anak yang tidak mau gantian bermain ayunan, dan membuat anak lainnya marah.

Kita bisa bantu anak dengan menguraikan masalahnya:
1. apa ada yang sakit/ terluka?
Ini selalu ditanyakan pertama terkait dengan kemungkinan terjadinya kecelakaan yang tidak kita ketahui.
2. Ada kejadian apa?
Untuk mendapatkan detail kejadian dengan kacamata anak. Meskipun kita melihat langsung kejadiannya, tapi kita tetap menanyakan kejadiannya, dengan tujuan untuk membantu anak menguraikan kejadian yang dialaminya sampai menemukan solusi.
Kita juga menanyakan detail kejadian dari anak lainnya yang ada di dekat kejadian untuk mendapatkan memastikan kebenaran kejadian.
3. Apakah ada peraturan yang mengatur terkait kejadian tersebut?
Jika ada kita bisa gunakan peraturan tersebut untuk menyelesaikan konflik.
Kalau tidak ada kita bisa gunakan peristiwa ini untuk membuat peraturan / kesepakatan bersama seluruh anak terkait kemungkinan terjadinya kembali peristiwa tersebut.
4. Apa solusi yang bisa dilakukan?
Tanyakan kepada semua anak yang terlibat dan terpengaruh dengan kejadian tersebut. Tanyakan persetujuan semua anak yang terlibat untuk solusi yang diajukan. Solusi hanya diterima saat semua anak setuju.

Kalau Bunda ingat, langkah – langkah tersebut adalah langkah resolusi konflik yang pernah kita bahas di broadcast sebelumnya.

Dengan kata lain, kalau kita melakukan langkah – langkah resolusi konflik dengan benar, kita juga sedang mengajarkan anak – anak tentang cara berpikir komputasi.

Luar biasa bukan,sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.

Happy K - Happy Kid Png Transparent PNG - 400x400 - Free Download on NicePNG


Yang perlu kita ingat disini adalah kehadiran kita hanya sekedar pendamping, anak lebih banyak berperan memberikan data terkait kejadian, hingga saran solusi dan akhirnya persetujuan solusi.

Bunda tertarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang cara berpikir komputasi?
Berikut beberapa sumber yang bisa Bunda gunakan:

Webinar “Cara Berpikir Komputasi Untuk Anak Preschool” https://www.youtube.com/watch?v=2iQCNFqe5Rs
dan berikut adalah artikel yang bisa Bunda baca. Artikel dalam bahasa Inggris, tetapi Bunda bisa membacanya dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan Google Translate seperti di tutorial di sini

https://www.gettingsmart.com/2018/03/early-learning-strategies-for-developing-computational-thinking-skills/https://www.edutopia.org/article/computational-thinking-kindergartners