NaZaNWR6MGpaMGZ4NGJaNqt4NncsynIkynwdxn1c
Kenali 3 Respon stres Anak , Nomer 3 Berbahaya Untuk Masa Depan Anak

Kenali 3 Respon stres Anak , Nomer 3 Berbahaya Untuk Masa Depan Anak

Perbedaan Otak Sehat dan Otak Dengan Efek Negatis Stres Toksin.
Sumber: blogs.kcl.ac.uk

Penelitian menunjukkan bahwa stres toksin bisa merusak otak dan sistem organ dalam pada anak. Lebih parahnya lagi, pengaruh ini bisa terus terlihat sampai anak dewasa.

Kita tentu tidak ingin hal ini terjadi. Dari sejak anak kita kecil kita rawat mereka dengan baik, mulai dari pemilihan makanan, pola asuh, hingga pendidikan. Kita tidak akan membiarkan pondasi yang baik ini rusak begitu saja. 

Jadi apa itu stres toksin, dan bagaimana kita bisa mencegah efek negatifnya?
Simak artikel berikut ini ya Bu.

Definisi stres

Medlineplus menjabarkan bahwa, stres pada anak bisa disebabkan oleh perubahan positif, misalnya seperti memulai aktivitas baru.
Meski begitu, umumnya stres pada anak terkait dengan perubahan negatif, seperti penyakit, orang tua mengalami kesulitan ekonomi  atau kehilangan pekerjaan dan  atau kematian anggota keluarga.
(https://medlineplus.gov/ency/article/002059.htm)

Pertanyaannya tinggal bagaimana supaya stres yang dialami tidak sampai menimbulkan efek negatif.

Untuk itu kita perlu mengenal jenis-jenis stres yang ada. Pusat Perkembangan Anak Usia Dini Harvard menjabarkan stres menjadi 3 jenis.

Sebelumnya perlu ditekankan bahwa, pengertian stres disini adalah respon terhadap suatu kejadian, bukan kejadiannya.

Dua anak bisa memberikan respon yang berbeda terhadap satu kejadian yang sama.

Pindah sekolah baru, misalnya.
Satu anak memperlihatkan respon biasa saja bahkan antusias, sementara satu anak lainnya membutuhkan dukungan emosional saat harus pindah sekolah baru.

Berikut adalah penjabaran 3 jenis stres: 

1. Stres Positif



Yaitu yang biasa kita temui dalam kehidupan sehari - hari seperti misalnya pada saat anak masuk kelas baru. stres tipe ini ditandai dengan peningkatan denyut jantung dan sedikit kenaikan hormon stres. 
Respon ini akan hilang setelah beberapa waktu, biasanya ditandai dengan anak yang sudah mulai merasa nyaman dengan keadaan tersebut.

2. Stres Dalam Batas Toleransi



Stres ini memiliki indikator yang sama dengan stres positif, tapi dengan tingkat denyut jantung dan jumlah hormon stres yang lebih tinggi dan berlangsung lebih lama, misalnya kehilangan orang yang dicintai (meninggal), bencana alam, atau cedera yang menakutkan.

Jika respon stres ini tidak berlangsung lama dan atau ada orang dewasa yang membantu anak beradaptasi, maka anak bisa pulih dari potensi efek negatif yang berkepanjangan.

3. Stres Toksin



Respon stres toksin bisa muncul saat anak mengalami kejadian yang kuat atau berulang seperti kekerasan fisik dan atau emosional, tidak mendapat perhatian orang tua dan termasuk akumulasi beban keuangan keluarga, dan biasanya diperparah dengan ketidakhadiran orang dewasa yang mendukung anak.

Paling Bahaya

Stres paling berbahaya adalah  yang berlangsung terus menerus, dan atau dipicu berbagai sumber yang berbeda ditambah ketidakhadiran orang dewasa yang membantu anak melewati keadaan ini.

Akibat dari stres ini bisa menyebabkan akumulasi gangguan pada kesehatan mental dan fisik anak, bahkan bisa berlangsung hingga seumur hidup anak tersebut.

Kunci Mencegah Efek Negatif Stres

  • Mengingat bahwa yang berbahaya adalah respon, dan bukan kejadiannya. Kejadian yang sama bisa menghasilkan respon yang berbeda, tergantung pada individu tiap anak. Sehingga kita perlu peka terhadap respon anak kita.
  • Beri role model bagaimana cara menangani stres. Ibu bisa melakukannya lewat cerita, bisa juga dengan respon yang diperlihatkan saat Ibu menemui kejadian yang baru atau berat. 
  • Efek stres toksin bisa dicegah dengan kehadiran kita, orang dewasa yang membantu anak beradaptasi dengan tantangan yang dihadapinya. Salah satu contoh yang bisa ibu lakukan adalah pada saat anak menangis. Kita perlu tahu kapan harus langsung menolong, dan kapan kita perlu membiarkan anak punya waktu untuk menangis dan mengelola emosinya. Ibu bisa mendapatkan info detailnya di artikel Ibupedia dengan judul "Tak Perlu Panik Membiarkan Anak Menangis Ada Manfaatnya Lho!"

Saya akan tutup artikel ini dengan cerita tentang seorang anak dan botol susu.


Seorang anak mengambil botol susu dari dalam kulkas. Saat dia menutup pintu kulkas, pegangan botolnya terlepas, sehingga botol jatuh dan pecah.

Susu tumpah kemana - mana.
Anak ini diam membeku, matanya mulai berkaca - kaca, denyut jantungnya bertambah kencang.

Ibunya yang mendengar suara botol jatuh, datang dan bertanya: "Kamu terluka?"
Anak menggeleng.

"Apa yang terjadi?"

"Aku tidak tahu Bu. Tadi aku memegang botol dan menutup pintu kulkas. Tahu - tahu botolnya jatuh."

"Kira - kira kenapa bisa terjadi ya?" tanya Ibu itu dengan mata penasaran.

"Kita cari tahu yuk!"


Ibu lalu mengambil botol yang serupa dengan yang jatuh. Bersama - sama mereka mereka-ulang kejadiannya.

Anak yang melihat respon ibu yang tenang, jadi ikut tenang dan ikut penasaran bagaimana botolnya bisa jatuh.

Tidak lama, mereka menemukan bahwa, botol yang berisi penuh susu terlalu berat untuk satu tangan.

"Ah, jadi itu sebabnya. Kira - kira besok supaya tidak jatuh lagi, apa yang bisa kita lakukan ya?" tanya Ibu.

"Pegangnya dengan dua tangan."

"Lalu tutup kulkasnya bagaimana?"

"Tutupnya setelah botolnya ditaruh dimeja, Bu."

"Ah, ide bagus."


Dan legenda berkata, bahwa 20 tahun kemudian, anak ini menceritakan kejadian ini di acara penyerahan hadiah nobel kimia.

Dalam acara penyerahan nobel tersebut ia mengenang kisah botol susu, "Ibu mengajarkanku melalui botol yang jatuh. Bahwa kesalahan ada untuk kita menemukan solusi, bukan untuk berhenti. Kehadiran Ibu membantu mengatasi ketakutanku (baca: stres) sehingga aku bisa mengubahnya menjadi pengalaman pembelajaran hingga dewasa."

Rangkuman

Selamat Ibu sudah menyelesaikan artikel ini, dan kita sudah belajar bahwa :
  • Stres terdiri dari 3 jenis: stres positif, stres dalam batas toleransi, dan stres toksin.
  • Kehadiran orang dewasa bisa menghindarkan anak dari efek stres toxin.
  • Stres toksin muncul terutama karena keadaan yang berkelanjutan, berat, dan ketidakhadiran orang dewasa.

Penutup

Ibu mendapatkan manfaat dari artikel ini? 
Bagikan dengan teman Ibu juga, supaya mereka juga mendapatkan manfaatnya:


Komentar

Contact Us via Whatsapp