NaZaNWR6MGpaMGZ4NGJaNqt4NncsynIkynwdxn1c
Pembelajaran Out door Learning (Luar Ruang) Berbasis Permainan Tradisional untuk Anak Usia Dini? Why Not!

Pembelajaran Out door Learning (Luar Ruang) Berbasis Permainan Tradisional untuk Anak Usia Dini? Why Not!

Review jurnal dari Junaedah, Syamsul Bahri Thalib & Muhammad Arifin 

Program Pasca Sarjana Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Makassar, Indonesia  


Mendengar kata permainan tradisional, serasa membawa angan kita untuk bernostalgia membayangkan keseruan bermain bersama teman masa kecil. Ada banyak keseruan saat kita bermain. Tertawa bersama, berlarian dan berkejaran bahkan tanpa di sadari kita juga belajar berkoordinasi, kerjasama team dan juga menentukan berbagai macam  strategi untuk mengalahkan kelompok /lawan main kita walau kadang juga di bumbui dengan strategi yang penuh kecurangan. Hehehe...


 Namun dalam perkembangannya saat ini permainan tradisional seakan mulai hilang karena tergeser dengan permainan modern yang cenderung soliter dan membuat anak kurang adaptif terhadap lingkungan sosial yang lebih luas.. Hal ini sungguh di sayangkan  karena Usia dini adalah usia bermain, usia di mana anak-anak meniru apa yang mereka lihat, mereka alami dan rasakan saat bermain bersama teman / kelompoknya sehingga membentuk tumbuhnya karakter sosial yang tangguh.

So, memperkenalkan lingkungan sosial melalui bermain kepada anak adalah langkah pertama dalam membentuk perilaku mereka. Salah satunya dengan Memperkenalkan anak usia dini dengan pembelajaran di luar ruangan (outdoor learning) melalui permainan tradisional.

Dalam  jurnal The Outdoor Learning Modules Based on Traditional Games in Improving Prosocial Behavior of Early Childhood  Junaedah menyebutkan “Melalui pembelajaran di luar ruangan diharapkan mampu mengembangkan perilaku prososial siswa. Perilaku prososial yang diharapkan terjadi pada diri siswa diantaranya mampu bekerja dengan orang disekitarnya, kemandirian, dan tanggung jawab.”  

Menurut Andriani (2012) bahwa; bagi anak-anak, bermain memiliki manfaat yang sangat penting, yaitu bermain tidak hanya untuk kesenangan saja tetapi  juga kebutuhan yang harus dipenuhi. Kemudian Andriani (2012) juga menyatakan bahwa melalui kegiatan bermain anak dapat belajar  tentang diri mereka sendiri, orang lain, dan lingkungannya. Di usia muda, anak-anak terkadang mengalami periode sensitif;  Anak juga terkadang mulai peka terhadap upaya mengembangkan potensi penuh anak. Periode ini adalah  masa dimana anak mengembangkan kemampuan yang meliputi kognitif, nilai moral, dan konsep diri.  

Nah pertanyaan yang mungkin timbul di benak kita adalah mengapa kegiatan outdoor learning di butuhkan bagi anak usia dini? Dan bagaimana bentuk kegiatan outdoor learning yang di mungkinkan untuk di ciptakan bagi anak usia dini? Dapatkah permainan tradisional menjadi sarana pemenuhan kegiatan outdoor learning yang tepat guna bagi anak usia dini? Kita belajar bersama yuk bunda..

Mengutip kembali, dalam jurnal The Outdoor Learning Modules Based on Traditional Games in Improving Prosocial Behavior of Early Childhood  disebutkan Husamah (2013, p. 22) dalam Arizandi (2018) disebutkan bahwa “Keunggulan dari strategi outdoor learning adalah siswa dapat mendorong motivasinya dalam belajar dengan lingkungan belajar yang menyenangkan, penggunaan media pembelajaran yang konkrit, menggunakan bahan-bahan alam yang sudah ada disekitarnya, dapat menumbuhkan kemampuan bereksplorasi dan dapat memberikan kesenangan kepada siswa ketika belajar tanpa merasa bosan dan lelah karena kurangnya minat belajar mengajar”.

Strategi pembelajaran di luar ruangan juga dapat menumbuhkan penguatan konsep yang akan diberikan kepada anak. Belajar di luar ruangan memiliki keuntungan pendidikan yang signifikan bagi anak-anak di tahun-tahun Sekolah Dasar dan kebutuhan untuk berhubungan dengan alam menjadi semakin menonjol dalam penelitian di seluruh dunia. Perilaku prososial, terutama pada tahun-tahun awal, terbukti memiliki hubungan kausalitas dengan konektivitas dengan lingkungan alam (Lloyd & Gray, 2014). 

Hal ini senada dengan yang di sampaikan oleh  Tinne (2012, h. 7), yang  menyebutkan bahwa pembelajaran outdoor learning  dapat  menumbuh kembangkan perilaku prososial seperti :

SHARING: Sikap terbiasa Berbagi perasaannya dengan orang lain, baik dalam suasana suka cita  dan kesedihan.

HELPING: yaitu sikap terbiasa memberikan bantuan kepada yang membutuhkan baik moril maupun materiil, termasuk menawarkan sesuatu yang dapat mendukung pelaksanaan kegiatan orang lain.  

TEAMWORK, sikap dapat bekerjasama dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama,  termasuk saling memberi, saling menguntungkan.  

HONEST, sikap terbiasa bertindak jujur​​, mengatakan apa adanya, tidak berbohong kepada orang lain dan tidak  menipu orang lain.  

CHARITY yakni sikap siap sedia untuk  memberikan sebagian dari miliknya secara sukarela kepada seseorang yang membutuhkan.  

Nah ini artinya kegiatan outdoor learning memang menjadi kebutuhan mendasar bagi anak usia dini maupun sekolah dasar dalam mengembangkan aspek sosialnya ya bun, karena dengan kegiatan out door learning anak jadi merasa happy dan tidak terbebani saat mempelajari kemampuan belajar baru. Plus keuntungan rekreatif!. Karena mereka dapat melepaskan perasaan dan emosi secara spontan saat bermain sehingga anak bisa melepaskan beban setelah seharian penuh berkutat dengan kegiatan / tugas belajarnya.

Pertanyaan selanjutnya, apakah permainan tradisional yang di padukan   dengan kegiatan outdoor learning di mungkinkan untuk diciptakan bagi anak usia dini?

Jawabannya Yup. sangat mungkin! Dan pasti bisa. Seperti pemaparan di awal tulisan ini, kita semua pasti pernah melakukan kegiatan bermain permainan tradisional. Dan di masa dulu hampir semua permainan tradisional di lakukan secara outdoor seperti di halaman rumah / pekarangan, kebun maupun tanah lapang. Sehingga bisa di katakan secara alaminya permainan tradisional adalah permainan yang di lakukan di luar ruangan sesuai prinsip pembelajaran outdoor learning.

Ada banyak ragam kegiatan permainan di luar (outdoor learning) yang bisa kita ciptakan untuk anak usia dini. Diantaranya melalui permainan tradisional yang sudah lama kita kenal dan mainkan. Apa saja ya? Kita intip yuk

Permainan “Ular Naga” 

sumber: https://gpswisataindonesia.info/

Permainan Ular Naga dikenal sudah ada sejak jaman dahulu kala, permainan yang membutuhkan banyak pemain adalah permainan dari generasi ke generasi yang tidak begitu jelas asal usulnya dan apa yang terjadi dibalik permainan tersebut, yang pasti game ini memiliki nilai sejarah tersendiri. Nama permainan ini karena dalam permainan ini pemain membuat garis yang panjang dan berjejer kemudian masing-masing memegang pundak teman yang diibaratkan ular, naga adalah nama binatang yang keberadaannya tidak pasti; Jelas, nama ular diambil sebagai cara bermain. Permainan ini hanya menggunakan lapangan sebagai tempat bermain “Ular Naga”.  

Adapun Nilai-Nilai Agung dalam Permainan Ular Naga:  

Semangat  

Anak belajar mengatur emosi agar tetap kompak.  

Anak-anak mematuhi peraturan 

Bergandengan tangan agar tidak lepas dan terjawab gerakan goyangan ular. Setelah proses pembelajaran selesai, mahasiswa diharapkan mampu:  

Menumbuhkan sikap kerja sama, semakin banyak kesempatan yang dimiliki untuk mengerjakan sesuatu secara bersama-sama, semakin cepat pula mereka belajar melakukannya dengan bekerja sama.  

Mengembangkan sikap kemurahan hati dengan kemauan anak untuk berbagi sesuatu dengan temannya 

Mengembangkan sikap simpatik anak yang diungkapkan melalui upaya membantu sesama teman 

 Mengembangkan sikap tidak mementingkan diri sendiri dan ingin berbagi apa yang dimilikinya  


Santo-santo

Ilustrasi: sumber: tempo.co


Santo' merupakan permainan anak tradisional yang berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan. Permainan 'Santo' biasa juga disebut Santo-santo atau Massanto oleh masyarakat Sulawesi Selatan. Permainan rakyat ini memiliki berbagai jenis tergantung cara memainkannya. Santo 'termasuk permainan tradisional yang dimainkan secara berkelompok dan sangat mudah dimainkan.  

Nilai Tinggi dalam Permainan Santo:  

a) Kerjasama  

b) Solidaritas  

c) Ketelitian dan Ketepatan  

d) Kesegaran Jasmani (olah raga)  

e) Pemetaan Strategi  

f) Interaksi Sosial  

Setelah proses pembelajaran selesai diharapkan siswa mampu:  

Kembangkan sikap bekerja sama, semakin banyak kesempatan yang mereka miliki untuk melakukan sesuatu bersama, semakin cepat mereka belajar melakukannya dengan bekerja bersama.  

Mengembangkan sikap kemurahan hati dengan kemauan anak untuk berbagi sesuatu dengan temannya 

Mengembangkan sikap simpatik anak yang diungkapkan melalui upaya membantu sesama temannya 

 Mengembangkan sikap tidak mementingkan diri sendiri dan ingin membagikan apa yang dimilikinya.  

Permainan Asing (GOBAK SODOR) 

Sumber: https://www.anakmandiri.org/

Hampir seluruh daerah di Indonesia mengenal permainan Gobag Sodor, hanya saja tiap daerah memiliki nama yang berbeda-beda. Istilah Gobak Sodor dikenal di daerah Jawa Tengah. Di Kepulauan Natuna dikenal dengan Galah, sedangkan di Riau dikenal dengan Galah Panjang, di wilayah Riau Land dikenal dengan sebutan Cak Bur atau Main Belon. Di Jawa Barat nama permainannya adalah Galah Asin, di Makassar disebut Asing dan di daerah Batak Toba disebut Margala.  

Asing Game merupakan permainan kelompok yang terdiri dari dua kelompok, dimana setiap regu terdiri dari 3-5 orang. Inti dari permainan ini adalah untuk memblokir lawan agar tidak melewati garis terakhir bolak-balik dan untuk mencapai kemenangan semua anggota grup harus menyelesaikan proses bolak-balik di area lapangan yang ditentukan. 

 Nilai-nilai dalam permainan “Asing-Asing” adalah sebagai berikut:  

Kebersamaan;  

Kerja sama yang kompak antara satu penjaga dengan penjaga lainnya sehingga lawan tidak kehilangan kendali untuk keluar dari kungkungan kita.  

Setelah proses pembelajaran selesai, siswa diharapkan mampu:  

Menumbuhkan sikap kooperatif, semakin banyak kesempatan yang dimiliki untuk mengerjakan sesuatu secara bersama-sama, semakin cepat pula mereka belajar melakukannya dengan bekerja sama.  

Mengembangkan sikap kemurahan hati melalui kesediaan anak untuk berbagi sesuatu dengan temannya. 

Menumbuhkan sikap simpati anak yang diungkapkan melalui upaya membantu sesama temannya. 

Mengembangkan sikap tidak mementingkan diri sendiri dan ingin membagikan apa yang mereka miliki.  


4) Permainan Saureka-reka  


Tari Saureka Reka sangat menyenangkan, aktif melibatkan anak-anak untuk bermain dan menari bersama. Tarian ini bisa dikenalkan kepada anak-anak sebagai kegiatan bermain. Keempat bambu tersebut berfungsi sebagai gaba-gaba, alat untuk menari ini. Pada setiap ujung bambu ikat ruas bambu yang telah dipotong sangat erat dengan menggunakan tali. Ikat erat dengan simpul, dan 

Ruas bambu ini berfungsi sebagai pegangan saat memainkan bambu agar tangan pemegang bambu tidak terjepit atau terluka. Lebih baik dari ruas bambu yang diamplas terlebih dahulu agar serat bambu tidak melukai pemain.  

Setelah proses pembelajaran selesai, siswa diharapkan mampu:  

a) Menumbuhkan sikap kooperatif, semakin banyak kesempatan yang dimiliki untuk mengerjakan sesuatu secara bersama-sama, semakin cepat pula mereka belajar melakukannya dengan bekerja sama.  

b) Mengembangkan sikap kemurahan hati melalui kesediaan anak untuk berbagi sesuatu dengan temannya. c) Mengembangkan sikap simpatik anak yang diungkapkan melalui upaya membantu sesama temannya. d) Mengembangkan sikap tidak mementingkan diri sendiri dan ingin membagikan apa yang mereka miliki.  


Wah ternyata tanpa kita sadari permainan  kita di masa kecil manfaatnya luar biasa ya bun?! Yuk kita coba gali kembali budaya permainan tradisional kita untuk mengembangkan aspek prososial anak usia dini kita sekaligus menghindarkan anak anak kita dari kecanduan bermain gadget yang tidak bermanfaat. Selamat bermain dan bergembira.

Surabaya, 25 mei 2021

Eny Damayanti

Komentar

Contact Us via Whatsapp