NaZaNWR6MGpaMGZ4NGJaNqt4NncsynIkynwdxn1c
Data Tentang Vaksin Sinovac

Data Tentang Vaksin Sinovac

Hore, vaksin sudah dimulai di berikan. Setelah mendapat lampu hijau dari IDI,  MUI, dan juga BPOM, akhirnya vaksinasi sudah mulai dilakukan. 

Doa kita semua, semoga semua pihak cepat mendapatkan vaksin, mulai dari yang diprioritaskan terlebih dahulu, seperti petugas kesehatan dan pejabat publik.

Dan nanti di pertengahan tahun saat produksi vaksin penerima sudah bertambah, semoga sekolah bisa kembali tatap muka seperti biasa. Aminnn.

Dan untuk lebih mengenal, berikut adalah beberapa data tentang vaksin yang digunakan di Indonesia:

  • Bernama sinovac yang dikembangkan di china dan telah di uji di berbagai negara.
  • Presiden Turki juga sudah disuntik dengan vaksin yang sama, sumber .
  • Tingkat kemanjuran vaksin ini di RI dilaporkan 65,3% sementara di Turki 91,25%, tetapi di Brazil hanya 50,4%. kenapa berbeda - beda mister? Wah saya bukan ahlinya Bunda, tapi dari beberapa sumber yang saya baca, varian virus ini berbeda-beda di tiap negara, jadi kemungkinan karena itu keefektifan berbeda beda. Sumber.
  • Sinovac bersumber dari virus yang sudah dilemahkan, berbeda dengan vaksin Pfizer yang bersumber dari mRNA , yang masih belum umum digunakan di dunia medis, tetapi karena kondisi darurat maka penggunaannya dipercepat. Karena itu pula beberapa petugas kesehatan di amerika justru lebih memilih di vaksin menggunakan sinovac yang pembuatannya menggunakan metode yang sudah teruji selama ini.
  • Dalam urusan penyimpanan vaksin, Sinovac terbilang lebih sederhana karena hanya membutuhkan penyimpanan dalam lemari es dengan standar suhu 2-8 derajat celcius. Perawatan yang baik bisa membuat vaksin Sinovac bertahan hingga 3 tahun lamanya. Sedangkan untuk Pfizer, butuh penyimpanan khusus di mana vaksin corona Pfizer arus disimpan dalam suhu dingin minus 70 derajat celsius. Sumber.

Hoax seputaran vaksin:

- Hoax= Bisa merubah DNA manusia. 

Jauh Bunda, untuk merubah DNA tidak semudah itu. Dan yang pasti vaksin ini sudah diuji oleh departemen kesehatan dari berbagai negara. Jadi bukan hanya dari satu negara.

- Bisa membunuh manusia dalam waktu yang tidak diketahui, bisa satu bulan, bisa satu tahun, bisa dua tahun lagi. 

Ini sudah keterlaluan ngarangnya. Mana ada cairan yang diminum sekarang dan baru berefek ratusan bahkan ribuan jam kemudian. Kalau teknologi ini ada, itu perusahaan obat pasti sudah gulung tikar. Kita cukup beli obat satu kali dan tidak kena penyakit lagi hingga tahunan.

- hasil penelitian menunjukkan kalau vaksin ini berbahaya dan membunuh. 

WHO, IDI, BPOM sudah memberi lampu hijau, yang berarti sudah meneliti hasil penelitian terkait dengan vaksin tersebut. Kalau ada yang bilang ada hasil penelitian yang menunjukkan hasil yang berbeda, Bunda bisa cari sumbernya, beneran ada atau hanya asal bicara. 

Kalau beneran ada, Bunda cek lagi siapa yang buat, lalu Bunda cek hasik karyanya yang lain, apakah memang penelitinya aktif dalam komunitas penelitian kesehatan di negaranya. 

Lalu Bunda cek referensi yang digunakan, lebih lanjut lagi Bunda lihat apakah sudah ada review dari sesama peneliti terhadap hasil penelitiannya tersebut ataukah itu hanya penelitian yang dibuat sendiri dan tidak diangkat di komunitas peneliti kesehatan untuk mendapat peer review. 

Atau mudahnya, Bunda bisa kirimkam ke kami untuk kami gali datanya. Bunda bisa kirimkan ke materitk@gmail.com untuk kami gali lebih lanjut data yang ada.

Lalu, setelah divaksin berarti kita pasti aman dari covid ya Mr?
Tidak juga Bunda, kita masih perlu  menggunakan masker dan cuci tangan seperti sekarang ini.

Kenapa begitu Mister?
Untuk jelasnya, berikut saya kutip jawaban ahlinya, saat ditanya apakah masih bisa kena covid setelah di vaksin:

"Apakah (vaksin Covid-19) menjamin 100 persen (tidak akan terinfeksi)? Saya rasa di dunia ini tidak ada yang menjamin 100 persen," kata Prof Sri dalam keterangan pers Persetujuan Penggunaan Darurat (EUA) CoronaVac, Senin (11/1/2021). 

Namun, ditegaskan Prof Sri bahwa pemberian vaksin Covid-19 ini dimaksudkan agar jika pun nanti partisipan tetap tidak bisa menghindari dari terinfeksi virus SARS-CoV-2, setidaknya pasien tidak akan mengalami kesakitan yang parah dan meminimalisir risiko kematian.

Masih dari sumber yang sama, berikut adalah keterangan tentang pemberian vaksin:

Jika Anda nanti menjadi partisipan penerima vaksin, ingatlah setelah mendapatkan suntikkan vaksin Covid-19 yang pertama, maka itu tidak langsung akan membuat antibodi tubuh Anda muncul dan meningkat drastis. 
"Paling tidak setelah 2 kali suntik, paling tidak 14 hari sampai 1 bulan itu baru maksimal antibodinya," kata dia. 

sumber 

Bagaimana Bunda?
Masih ada pertanyaan kah?



Komentar

Contact Us via Whatsapp