Hasil Pembelajaran Metode Montessori

Broadcast materitk

Jumat, 10 Juli 2020 



Hasil Pembelajaran Metode Montessori

Perkiraan waktu dibutuhkan untuk membaca broadcast=

 5 menit: 29 detik








PENGANTAR BROADCAST

Halo apa kabar Bunda semua.

Tidak terasa kita sudah memasuki minggu ke 4 belajar tentang Montessori.


Dan pada edisi broadcast penutup seri Montessori kali ini, materitk akan menjabarkan 4 poin hasil pembelajaran yang diperoleh selama mempelajari metode Montessori.


Kita mulai dengan ringkasan materi sebelumnya.


Ringkasan prinsip Montessori minggu lalu:

Beberapa minggu ini kita belajar 16 prinsip Montessori sebagai berikut:

  1. Respek terhadap anak

  2. Periode sensitif

  3. Pikiran yang mudah menyerap

  4. Peran pengajar

  5. Material Montessori

  6. Lingkungan yang telah disiapkan

  7. Siklus kerja tiga jam

  8. Lima area kurikulum

  9. Normalisasi

  10. Kebebasan untuk memilih

  11. Keteraturan

  12. Minat / ketertarikan

  13. Belajar dari teman

  14. Gerakan

  15. Konteks

  16. Panduan guru



Selama pembuatan broadcast seri Montessori ini penulis menemukan banyak hal menarik:


Sejarah Montessori:

Pada tahun 1906, Dr. Maria Montessori, seorang pendidik, dokter, dan ilmuwan Italia, yang baru saja menjadi juri suatu kompetisi internasional mengenai subjek pedagogi ilmiah dan psikologi eksperimental, diundang untuk membuat pusat pengasuhan anak di San Lorenzo, sebuah distrik kota Roma, yang memiliki banyak penduduk miskin. 


Di sana, dia akan bekerja dengan beberapa anak-anak yang paling tidak beruntung, dan sebelumnya tidak bersekolah. 

Dengan kata lain, Montessori diberi sekolah yang “tanpa harapan”.


Kalau sekarang ini, ibarat kata, Bunda diberi kepercayaan menjadi kepala TK di kota yang penduduknya paling miskin, dan anak - anaknya tidak pernah mengenal sekolah.


Bunda mau menjadi kepala TK di sekolah itu?


Salutnya, disini Montessori tidak menolaknya, tetapi menerimanya dan melakukan yang beliau bisa.


Sebagai seorang ilmuwan beliau terbiasa mencatat, mengolah catatan, mengajukan pertanyaan dan melihat apakah data dari hasil catatannya bisa diulang di tempat lain dan mendapatkan hasil yang sama.


Montessori membuka ‘sekolah”  pada 6 Januari 1907, dan menyebut pusat pengasuhan itu Casa dei Bambini — bahasa Italia untuk “Rumah Anak-Anak.” 

Montessori bertekad menjadikan Casa sebagai lingkungan pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak muda ini, yang menurut banyak orang tidak dapat belajar — dan dia melakukannya. 


Pada awalnya anak - anak ini tidak bisa diatur, tetapi tidak butuh waktu lama,  mereka segera menunjukkan minat yang besar dalam mengerjakan teka-teki, belajar menyiapkan makanan dan membersihkan lingkungan mereka, dan terlibat dalam pengalaman belajar langsung. 


Montessori mengamati bahwa tak lama kemudian, anak-anak menunjukkan perilaku yang tenang dan damai, periode konsentrasi yang dalam, dan rasa keteraturan dalam merawat lingkungan mereka. Ingat prinsip “normalisasi”.


Dia melihat bahwa anak-anak menyerap pengetahuan dari lingkungan mereka, yang pada dasarnya mengajar diri mereka sendiri. 


Memanfaatkan pengamatan ilmiah dan pengalaman yang diperoleh dari pekerjaan sebelumnya dengan anak-anak, Dr. Montessori merancang bahan pembelajaran yang unik untuk mereka, banyak di antaranya masih digunakan di ruang kelas Montessori hari ini, dan menciptakan lingkungan kelas yang menumbuhkan keinginan alami anak-anak untuk belajar. 


Berita keberhasilan sekolah segera menyebar ke Italia. Pada 7 April 1907, Dr. Montessori membuka Casa dei Bambini kedua, juga di San Lorenzo. Dan pada 18 Oktober 1907, di Milan, dia membuka Casa ketiga.


Dan sisanya menjadi sejarah dunia terhadap metode pendidikan Montessori.


Dengan kata lain: 

Teori Montessori terbentuk dari pengamatan pertumbuhan alami anak, yang dicatat, didata, direnungkan, dan dicoba ulang di beberapa tempat lain. Dan hasilnya konsisten, bagus untuk pendidikan anak.


Bunda bisa melihat versi videonya dengan klik gambar di bawah.






  • Kelas campuran

Montessori tidak menggunakan pembedaan kelas berdasarkan usia. Montessori justru menggunakan perbedaan usia untuk mendapatkan pertumbuhan pendidikan yang optimal.


Anak besar menunjukkan cara menggunakan alat. Anak yang lebih kecil belajar dengan cara memperhatikan. 


Pada saat yang bersamaan, anak yang lebih besar mengulang materi sehingga kemampuan mereka semakin mantap. Mereka juga mengembangkan kemampuan sosial dan kepemimpinan saat memberi contoh kepada anak yang lebih kecil.


Anak yang lebih muda,  belajar untuk menunggu giliran, dan mendengarkan dengan penuh perhatian terhadap kegiatan dalam komunitas.


Benar - benar sebuah miniatur masyarakat yang sangat baik.


  • Bebas memilih

Montessori membebaskan anak - anak dalam memilih kegiatan yang akan dilakukan mereka.


Montessori menemukan bahwa kebebasan terukur yang diberikan kepada anak - anak membawa mereka ke disiplin diri yang lebih baik dibandingkan dengan memberikan reward atau hadiah untuk membentuk disiplin anak.


Hal ini membentuk satu filosofi dalam Montessori yang disebut Internal Reward. 



  • Memperbaiki kesalahan


sumber gambar; https://btu.org/wp-content/uploads/2017/02/20170207_084840-1024x671.jpeg

Guru memperbaiki kesalahan hanya saat anak melakukan kesalahan penggunaan alat atau menggunakan dengan cara yang berbahaya.

Saat anak melakukan kesalahan, misalnya salah mengurutkan tinggi atau berat alat. Mereka berpikir ini hanya butuh pengulangan saja, dan anak - anak akan bisa menemukan kesalahannya.


Guru tidak langsung berkata, “Salah ini! Kok habis rendah, tinggi, lalu rendah lagi?” Ayo diperbaiki!”


Tidak ada koreksi seperti itu.


Tapi bukan berarti guru Montessori mengabaikan kesalahan yang dilakukan anak - anak ya.
Mereka sadar itu, dan mencatatnya, dan mengharapkan anak - anak bisa menguasainya. Tetapi mereka tidak memaksakan waktunya.


Untuk melihat lebih jelasnya, Bunda bisa melihat penjelasan singkat dari praktisi Montessori di video berikut.




  • Fokus anak

Penulis ingat waktu pertama kali belajar tentang Montessori, waktu itu penulis melihat sebuah video yang menunjukkan seorang anak kecil yang bisa penuh perhatian, fokus penuh, memindahkan pasir dari satu tempat ke tempat lain dalam waktu 30 menit lebih. Dan anak ini bisa terus fokus sampai selesai.


Penulis tidak bisa menemukan video tersebut, tetapi ada video yang serupa, berikut:


Ini sebuah ketekunan yang luar biasa. Yang mengejutkan saya adalah narasi video tersebut.


Katanya. Pemandangan ini adalah pemandangan yang biasa di sekolah Montessori, bukan hal yang luar biasa, karena fokus “Normalisasi” adalah salah satu prinsip dalam metode pendidikan ini.


Recap:

Berikut adalah rangkuman hal menarik dan yang redaksi dapatkan dari pembelajaran Montessori 4 minggu ini.


  • Montessori mengembangkan metode pembelajarannya dengan ikhlas menghadapi tantangan yang ada.


  • Montessori menggunakan kelas campuran. Layaknya miniatur masyarakat.


  • Montessori mengikuti proses pertumbuhan alami anak. Tidak memaksakan prosesnya. Hal ini terlihat dalam hal memperbaiki kesalahan anak.


  • Montessori membebaskan anak untuk memilih kegiatan secara terukur. Kebebasan memilih kegiatan ini ternyata menghasilkan disiplin diri yang jauh lebih baik dibandingkan dengan memberikan reward dari luar. Seperti permen atau mainan.


  • Semua pendekatan ini menghasilkan anak yang mampu fokus pada hal yang dilakukannya dalam jangka waktu yang lama.




Ini adalah bagian akhir dari pembelajaran Montessori.


Tentu masih banyak detail yang kita bisa pelajari dari Montessori.


Jadi tetap semangat untuk belajar menggunakan semua fasilitas yang kita miliki (Google dan YouTube).



Selamat Bunda telah menyelesaikan membaca broadcast ini.


  • Broadcast ini bebas untuk dibagikan. Bunda tidak perlu meminta ijin ke kami.


  • Bunda baru pertama membaca broadcast ini?


  • Klik link dibawah untuk mendapat update broadcast setiap selasa dan jumat jam 8 malam WIB.

https://bit.ly/maubroadcast

https://bit.ly/maubroadcast


Salam hangat dari Denpasar.


Bunda ingin menyimpan artikel diatas dalam bentuk pdf? Klik link dibawah

Br-08 Take Out Montessori

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tema Diri Sendiri

Membuat Video Untuk Home Learning