Jarak Baca Ideal, Supaya Mata Tidak Rusak

"Bacanya jangan dekat - dekat! Nanti matamu rusak." Ingat ayah saya saat melihat saya membaca buku dengan jarak yang sangat dekat dengan mata.

"Iya." Lalu saya masuk kamar, tutup pintu dan kembali membaca buku, dengan jarak dekat, sambil tiduran.

"Masak sih baca buku dengan jarak dekat gini merusak mata? Nggak masuk akal." Pikir saya waktu itu.

Sekarang saya jadi guru. Dan beberapa kali saya mengingatkan hal yang sama ke anak didik saya.

"Jangan dekat - dekat! Nanti matanya rusak."

Anda juga mengalami hal yang sama?
Anak didik atau anak anda membaca dalam jarak yang dekat, sampai - sampai hidungnya hampir menyentuh buku?

Hayuh, jangan lupa diingatkan.
Supaya jangan terlambat.

Beberapa hal yang terjadi kalau kita membiarkan anak membaca buku dalam jarak yang terlalu dekat.


  1. Mata rusak.
    Otot mata yang digunakan untuk mendapatkan fokus gambar menjadi kaku dan tidak bisa sepenuhnya kembali ke bentuk semula. Sehingga pandangan jarak pendek anak terganggu.
  2. Postur badan anak terganggu.
    Saat anak membaca dalam jarak yang terlalu dekat. Anak akan membungkuk dan hasilnya tulang punggunya jadi bengkok, alias tidak lurus.
  3. Leher kaku.
    Leher yang menopang kepala dalam posisi yang tidak ideal dan dalam jangka waktu yang lama membuat leher jadi kaku, dan tidak nyaman untuk beraktivitas.


Lalu bagaimana solusinya? Supaya anak tidak mengalami semua hal di atas?

Gampang.
Hapus semua kegiatan yang terkait dengan membaca buku. Atau...gunakan kacamata khusus membaca buatan saya.

Wah, mister nuel ini ada - ada saja.
Nggak Bunda, itu saya baca itu di sebuah situs.

Situs yang berisi semua penjelasan tentang penyakit yang bisa diderita anak karena membaca dalam jarak yang terlalu dekat.

Situs ini juga mengkritik semua dokter mata yang meresepkan kacamata dan terakhir situs ini ternyata juta menjual produk kacamata.

Wah, saya yang tadinya senang mendapatkan informasi dalam satu tempat, jadi agak gimana.

Ternyata jualan juga.
Tidak salah sih, jualan produk.
Hanya saja rasanya kok tidak pas menjual produk dengan mengkritik praktik dokter mata yang meresepkan kacama ke anak - anak.

Jadilah saya mengambil poin - poin yang bisa digunakan dari tulisan situs ditambah dengan sumber lain yang menunjang jawaban atas pertanyaan tadi.

Lalu bagaimana solusinya? Supaya anak tidak mengalami semua hal di atas?

Berikut jawaban yang saya kumpulkan:

1. Gunakan jarak baca yang ideal untuk membaca buku. Jangan terlalu dekat, jangan terlalu. Jarak ideal adalah dengan menggunakan tangan kita sebagai panduannya. Kita ukur jarak antara siku dengan genggaman tangan kita. Genggaman tangan kita senggolak ke mata, dan siku kita taruh di meja. Dan itulah jarak baca ideal untuk kita.


2. Setiap satuan waktu tertentu (30 menit misalnya) istirahatkan mata dengan memandang obyek dengan jarak yang berbeda.


Bagaimana menurut Bunda?
Gampang kan solusinya?

Tinggal pelaksanaannya yang perlu diingatkan berkali - kali.

Semangat Bunda semua salam hangat dari Denpasar.
Mister Nuel.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tema Diri Sendiri

Membuat Video Untuk Home Learning